Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Jelang Idul Adha, Jalur Alternatif Cikamurang Padat

Written By bopuluh on Senin, 14 Oktober 2013 | 04.14

CIREBON, KOMPAS.com - Menjelang hari raya Idul Adha, Senin (14/10/2013), jalur alternatif pantura dari Subang melintasi Cikamurang keluar Cijelag Sumedang arah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, padat dibandingkan sebelumnya.

Paryanto, seorang pengendara dari arah Subang di Cikamurang, mengatakan, arus lalu lintas mulai keluar pintu tol Sadang Purwakarta menuju Kabupaten Subang arah jalur alternatif Cikamurang Indramayu menuju Cijelag padat dibandingkan hari biasa.

Kendaraan roda empat cukup mendominasi dibanding sepeda motor dan angkutan umum, kata Paryanto, tetapi lalu lintas ramai lancar hingga pertigaan Cijelag.

Ia menambahkan, jalur alternatif semakin diminati sehingga jelang libur panjang seperti Idul Adha dan Idul Fitri, iring-iringan kendaraan memadati Cikamurang karena menghindari Pantura.

Brigadir Ujangpetugas Pos Polisi di Cikamurang menuturkan, volume kendaraan yang keluar pintu tol Sadang Purwakarta melintasi Subang mengarah ke jalur tengah Pantura Cikamurang meningkat, dibandingkan hari biasanya.  

Perjalanan Subang menuju Cijelag Sumedang melintasi Cikamurang, kata dia, pengendara  menempuh waktu cukup singkat dibandingkan arah Pantura, selain itu mereka terhindar kepadatan arus lalu lintas.

Hartini pedagang di Cikamurang mengaku, jelang Idul Adha kendaraan yang melintasi Cikamurang padat sehingga omzet penjualan meningkat dibandingkan sebelumnya.

Editor : Kistyarini


04.14 | 0 komentar | Read More

Parutan Nanas Muda untuk Empukkan Daging Kambing

KOMPAS.com - Selain punya bau prengus yang khas, daging kambing juga dikenal alot dan susah diolah. Direbus dalam waktu yang lama pun belum tentu akan membuat tekstur daging ini jadi enak dimakan. Mungkin saja empuk setelah direbus lama, tapi biasanya dagingnya jadi hambar karena jus dagingnya hilang.

Senen Riyanto, pemilik rumah makan Sate Goreng Kambing Pak Budi mengungkapkan, " Ada banyak metode yang bisa dipakai untuk mengempukkan daging kambing. Yang paling populer adalah menggunakan daun pepaya dan juga nanas," jelasnya saat demo memasak bersama sebuah produk kecap manis beberapa waktu lalu.

Namun, ia mengungkapkan bahwa proses mengempukkan daging ini akan lebih mudah dan cepat dengan menggunakan parutan nanas. Caranya, daging kambing yang sudah dipotong-potong (tidak perlu dicuci terlebih dulu agar tak prengus), direndam dalam parutan nanas. Proses perendaman ini hanya butuh waktu 3-5 menit saja.

Proses pemarutan ini akan mengeluarkan ekstrak dan sari nanas, serta melembutkan daging buahnya. Dengan tekstur nanas yang seperti ini, ekstraknya akan lebih mudah masuk ke dalam serat daging dan memecah proteinnya dibanding dengan hanya dengan memberi potongan nanas ke atas daging.

"Namun ingat nanas yang dipakai bukan nanas manis, tapi nanas yang masih sangat muda. Cirinya adalah kulit nanasnya masih berwarna hijau dan baunya masih tercium cukup asam. Kalau nanas yang manis, biasanya butuh proses yang lebih lama dan juga jadinya tidak terlalu empuk," katanya.

Penulis :

Christina Andhika Setyanti

Editor :

D. Syafrina Syaaf


04.14 | 0 komentar | Read More

Mencari �Kita� di antara �Aku� dan �Kamu� di Aceh


KOMPAS.com - Tepuk tangan menggema saat tujuh penari asal Papua memasuki pelataran Museum Tsunami, Banda Aceh, akhir September lalu. Diiringi alunan lagu ritmik yang diputar dari tape recorder, penari yang menghiasi tubuhnya dengan rumbai tali rafia sebagai bawahan dan hiasan kepala dari helai tapas sagu itu membawakan tarian Pangkur Sagu nan rancak.

"Baroe kali nyoe long kalen tarian lage nyan (baru kali ini saya melihat langsung tarian seperti ini)," kata Zuraida (38), dalam bahasa Aceh, saat menyaksikan tarian itu bersama ratusan warga Banda Aceh lainnya.

Penonton yang semula jauh dari arena pun mendekat. Sesekali sorakan penonton menimpali gerakan dinamis dari anak-anak asli Papua itu.

Tari Pangkur Sagu bukan satu-satunya yang disajikan. Atraksi liong, barongsai, tari kipas China, dan tarian khas Sunda, jaipong, turut menghibur warga yang hadir di halaman museum yang dibangun untuk memperingati tragedi tsunami tahun 2004 di Aceh itu. Tarian khas Aceh juga ditampilkan.

Penghargaan perbedaan

Di daerah lain mungkin mudah menyaksikan tarian dari etnis lain dalam pertunjukan secara langsung. Namun, konflik yang lama di Aceh membuat ekspresi seni lintas etnis seakan mati.

Padahal, bukan hanya suku Aceh, Gayo, Kluet, atau Jamee yang mendiami provinsi itu. Di dalamnya juga hidup suku lain, seperti Jawa, Tionghoa, Minang, Batak, Sunda, bahkan Papua, meski minoritas dalam jumlah. Aceh pun tidak hanya terdiri atas umat Islam, tetapi juga dihuni penganut Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan lainnya.

Pentas ragam seni Nusantara itu adalah salah satu bagian dari peringatan Hari Perdamaian Dunia, 21 September lalu. Acara ini digelar oleh sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Aceh yang peduli dengan isu pluralisme, antara lain Yayasan Anak Bangsa, Komunitas Tionghoa di Aceh, Flower Aceh, dan Relawan Perempuan untuk Kemanusiaan (RPuK). Hadir pula Alisa Wahid, putri sulung mantan Presiden KH Abdurrahaman Wahid; tokoh perempuan Aceh, Suraiya Kamaruzzaman; Asisten II Pemerintah Aceh, Said Mustafa; dan Wakil Wali Kota Banda Aceh Iliza Saaduddin Jamal.

Yang tampil adalah warga Aceh dari etnis yang beragam. Mereka mementaskan seni sesuai asalnya. "Kami ingin menunjukkan Aceh itu beragam. Dalam keragaman, kami ingin mengampanyekan penghargaan dan penghormatan pada perbedaan, baik agama, suku bangsa, maupun budaya," kata Liza Cici Dayani, aktivis perempuan Aceh.

Penghargaan atas perbedaan masih menjadi pekerjaan rumah bagi Aceh hingga kini. Kekerasan sektarianisme beberapa kali masih terjadi, seperti pembantaian jemaah Teungku Aiyub di Plimbang, Kabupaten Bireuen, pelarangan pembangunan tempat ibadah bagi umat beragama tertentu, dan penggerebekan terhadap beberapa dayah (pesantren) yang dinilai sesat.

Retakan etnis hadir seiring dengan perkembangan politik di Aceh. Misalnya, tuntutan pemisahan diri oleh etnis Gayo dan warga di bagian barat dan selatan Aceh dari provinsi itu. Tuntutan ini dipicu oleh sejumlah kebijakan Pemerintah Aceh yang dinilai mendiskriminasi etnis non-Aceh, seperti pengajuan bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebagai bendera Aceh dan penentuan Wali Nanggroe Aceh yang kurang mengakomodasi warga di luar suku Aceh.

Alisa mengatakan, keragaman seharusnya menjadi modal Aceh untuk kembali menjadi suku bangsa yang besar seperti pada masa silam. Kebesaran Aceh, seperti pada masa Samudera Pasai dan Iskandar Muda, dibangun oleh beragam etnis yang kemudian membentuk jati diri Aceh.

Persoalan penghormatan terhadap keberagaman sebenarnya tidak hanya di Aceh, tetapi juga dihadapi Indonesia. "Kini orang lebih sibuk mempertunjukkan 'aku' dan 'kamu', bukan 'kita'. Akibatnya, kondisi kebangsaan kita terus bermasalah," kata Alisa lagi. (m burhanuddin)

Editor : Kistyarini


04.14 | 0 komentar | Read More

Tanpa Warna Putih, Vera Wang Rilis Koleksi Gaun Pengantin

KOMPAS.com – Perancang yang hebat dan teruji kreatif, adalah mereka yang berani menghadirkan hasil karya yang imajinatif di antara dominasi tren yang berlaku. Persis, seperti yang dilakukan oleh Vera Wang pada presentasi koleksi busana pengantin terbarunya untuk musim depan.

Pada gelaran tersebut, Vera Wang tidak lagi bermain dengan warna putih. Sebuah langkah yang terbilang berani dan sarat risiko. Karena warna putih dikenal sebagai pilihan prioritas perempuan di hari pernikahannya. Dengan percaya diri Wang menghadirkan warna merah muda hadir sebagai subtitusi.

Selain mewakili sisi feminin perempuan, warna merah muda bisa dibilang merupakan simbol keanggunan sejati kaum hawa. Namun, spektrum merah muda yang ditampilkan oleh Vera Wang kali ini terasa lebih istimewa,  terinspirasi dari bunga kelopak bunga mawar, peoni dan bebatuan karang, yang menghasilkan pulasan warna romantis. Kelembutan warna pilihan ini berbaur pada rangkaian gaya gaun pengantin yang penuh daya pikat.

Setiap inci gaun pengantin yang dipamerkan, mengalir layaknya simfoni musik balada yang mengalun sendu, lewat permainan warna merah muda Wang menyatukan 'mimpi' hari pernikahan seorang perempuan, di atas akar feminitas yang menghembuskan konsep elegansi nan sakral.

Gaya gaun strapless masih disorot Wang sebagai 'bintang' utama, konstruksi gaun dengan teknik lipit dibagian dada dan perut menegaskan nuansa yang ditata demikian formil. Lewat koleksi anyarnya ini, semakin jelas terlihat bagaimana kegemarannya akan keindahan bunga tertuang menjadi ciri khas rancangan. Detail bunga mawar yang digubah megah kian mengentalkan imaji romansa seorang pengantin perempuan.

Editor :

D. Syafrina Syaaf


04.14 | 0 komentar | Read More

Iko Uwais: Kelahiran Ini Menjauhkan Fitnah

Written By bopuluh on Minggu, 13 Oktober 2013 | 04.14

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO

Pemain film laga The Raid, Iko Uwais, berkunjung ke Kompas.com, Jakarta, Jumat (16/3/2012). Film The Raid, yang disutradarai oleh Gareth Evans, mendapat apresiasi positif dari kritukus film dunia.


BEKASI, KOMPAS.com -- Aktor laga Iko Uwais (30) menyampaikan rasa syukur yang begitu besar terkait kelahiran anak pertamanya, yang diberi nama Atreya Syahla Putri Uwais.

Menurut Iko, kelahiran itu tepat waktu. Dalam arti tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lama. "Alhamdulillah dikasih enggak terlalu lama dan enggak terlalu cepat juga. Dikosongin dulu tujuh  bulan dan tepat waktunya," kata Iko saat ditemui di RS Hermina Galaxy, Bekasi, Sabtu (12/10/2013).

Pasangan yang menikah pada 25 Juni 2012 ini sempat diterpa kabar miring. Pernikahan mereka yang dinilai cepat dari waktu perkenalan membuat banyak orang yang menduga Audy Item telah hamil duluan.

Iko pun telah membantah isu tak sedap tersebut. Kelahiran anak pertamanya kali ini menjadi bukti perkataan Iko kala itu. "Kalau dikasih langsung pun mungkin ada fitnah. Alhamdulillah ini tepat waktunya," syukur Iko.

Audy melahirkan anak pertamanya dari Iko Uwais di RS Hermina Galaxy, Jumat (11/10/2013) pukul 07.24. proses persalinannya pun berjalan caesar.  


04.14 | 0 komentar | Read More

JERIN Festival: Pertemukan Sandhy Sondoro dengan Kawan Lama

JAKARTA, KOMPAS.com -- Penyanyi Sandhy Sondoro akan dipertemukan kembali dengan dua kawan lamanya yang pernah terlibat dalam produksi dua album internasionalnya saat masih berkarier di Jerman.

Mereka pun akan tampil di pembukaan JERIN Festival yang digelar di Plaza Selatan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, 18-20 Oktober 2013. "Untuk 18 Oktober (2013) nanti, saya akan perform dengan band saya. Tapi dua dari mereka bakal ekstra diterbangkan langsung dari Jerman, mereka Bennedict di drum, dan Sebastian Voghl sebagai basis. Mereka yang mendukung saya di Jerman," kata Sandhy dalam jumpa pers JERIN Festival di Kedutaan Besar Jerman untuk Indonesia, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (11/10/2013).

Menurut Sandhy, dengan sentuhan musik dari Benedict dan Voghl, penampilannya di JERIN Festival akan jauh berbeda dibanding penampilannya yang biasa. "Pasti beda, tidak seperti yang ada di album saya," ujar Sandhy.

"Sandhy Sondoro bakal memiliki band yang unik nanti, karena kami ingin ini menjadi penampilan dua negara, tidak seperti penampilan yang biasanya," timpal Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Georg Witschel.

Namun, karena JERIN Festival digelar untuk umum dan bakal dikunjungi oleh mayoritas masyarakat Indonesia, maka Shandy berjanji akan menyuguhkan musik yang tak asing untuk dinikmati. "Pastinya, saya memilih untuk mengombinasikan (antara musik yang tak asing bagi orang Jerman dan Indonesia," ujar Sandhy.

Dalam kesempatan itu, Shandy mengaku merasa beruntung bisa mengawali karier bermusiknya di Jerman. "Saya berterima kasih sekali bisa menjadi bagian dari acara ini, JERIN Festival 2013, yang mana saya menjadi warga Berlin dan warga Jakarta juga. Saya tinggal 20 tahun di Jerman, saya sekolah di sana dan saya survive di Jerman. Kalau saya enggak berkarier di Jerman saya juga enggak akan bisa berkarier di sini. Buat saya Jerman sudah seperti Ibu Pertiwi yang kedua buat saya," ungkapnya.

JERIN Festival 2013 juga menggelar beragam acara, antara lain pertunjukan seni, sajian masakan Jerman, dan bincang-bincang mengenai kiat berkarier di perusahaan Jerman. Selain Sandhy, juga akan tampil grup band Andra And The Backbone, kolaborasi DJ Hip Hop Marc Hype featuring pianis Jim Dunloop dan Violin Vistuoso Iskandar Widjadja. 


04.14 | 0 komentar | Read More

Shandy Sondoro Pernah Jadi Pengamen dan \"Cleaning Service\"


JAKARTA, KOMPAS.com -- Jauh dari kehidupannya yang sekarang ini sebagai artis musik yang mapan, dulu ketika masih belajar di Jerman, Shandy Sondoro pernah menjadi pengamen dan pekerja cleaning service untuk sekadar bertahan hidup di negeri orang.

"Saya kerja. Kayak student Jerman lainnnya, mereka enggak dikirim (duit) oleh orangtua. Kami semua fighting sendiri, bayar uang kamar sendiri, makan sendiri, apa-apa sendiri. Kami ada yang kerja di pabrik, ada yang di percetakan. Ada yang bersihin jalan," kisah Sandhy saat berbincang di Kedutaan Besar Jerman Untuk Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (11/10/2013).

"Itu semua saya alamin, jadi cleaning sevice di kantor sambil kuliah. Saya juga ngamen, yang penting saya hidup," lanjutnya. Hidup seperti demikian agaknya terus berlanjut hingga Sandhy merilis album perdananya di Jerman.

"Iya masih seperti itu. Jadi waktu itu pas album pertama masih agak sedikit goyang, akhirnya saya ngamen lagi, saya ada gig di kafe-kafe," ujar Sandhy.

Dari pengalaman hidup itulah akhirnya Shandy terbiasa serba tanpa basa-basi. "Karena saya dari 1993 di sana (Jerman), kepala saya dibentuk, karakter saya ya Jerman. Jermanisasi, saya orang yang to the point, saya apa adanya, mungkin orang akan bilang saya belagu. Tapi kalau saya enggak ada duit saya bilang enggak punya duit," tekan Sandhy.  


04.14 | 0 komentar | Read More

Kata Penulis Ini, Yesus Cuma \"Hoax\"


KOMPAS.com - Joseph Atwill, seorang penulis Amerika Serikat yang mengaku dirinya pakar Alkitab, menulis buku "Caesar's Messiah", mengatakan bahwa Yesus Kristus hanya hoax.

Atwill akan mengungkapkan pandangannya dalam sebuah simposium pada 19 Oktober 2013 mendatang. Ia akan menyampaikan topik "Covert Messiah".

Menurut Atwill, Yesus adalah sosok yang sengaja diciptakan Romawi untuk menenangkan orang Yahudi yang di masa lalu dinilai sering memberontak.

"Yahudi di Pakistan pada saat itu, yang menunggu mesias datang, adalah sumber pemberontakan pada abad pertama," kata Atwil.

"Ketika Romawi lelah untuk mengatasi pemberontakan secara konvensional, mereka beralih ke perang psikologis," lanjut Atwill.

"Mereka menyadari bahwa cara untuk menghentikan misionaris yahudi adalah dengan membuat kepercayaan tandingan. Di sanalah, sosok mesias pecinta perdamaian diciptakan," imbuhnya.

Penciptaan sosok mesias itu diharapkan membuat Yahudi patuh dan membayar pajak kepada Romawi.

Atwill membuat kesimpulan bahwa Yesus adalah konstruksi Romawi setelah membandingkan naskah "War of the Jews" karya Flavius Josephus dengan teks Perjanjian Baru.

"Saya mulai melihat urutan pararel antara kedua teks," kata Atwill seperti dikutip International Business Times, Rabu (9/10/2013).

Atwill menuturkan lokasi dan peristiwa kemesiasan Yesus kurang lebih sama dengan lokasi dan peristiwa dari kampanye militer Titus Flavius, salah satu kaisar Romwi.

"Ini bukti jelas dari sebuah pola yang sengaja dibuat. Biografi Yesus dikonstruksi, dari ujung ke ujung, dari cerita sebelumnya, terutama pada biografi kaisar Romawi," jelasnya.

Menanggapi pendapat Atwill, Ronald A. Lindsay, peneliti senior di Center of Inquiry, sebuah organisasi non profit, mengatakan, "Kenyataannya, kita sepertinya tidak akan pernah tahu 'fakta' tentang Yesus."

"Ada terlalu banyak cerita yang berbeda tentang Yesus, semua punya masalah kredibilitas yang serius dan tidak konsisten satu sama lain," ungkap Lindsay.

Dikutip Discovery, Rabu, Lindsay mengatakan bahwa untuk para sejarawan yang obyektif, Yesus akan tetap menjadi figur yang seperti bayangan.

Namun, banyak orang akan menganggap bahwa cerita soal Yesus adalah kebenaran yang tak terbantahkan.

Sementara, pada ekstrem lain, ada orang seperti Atwill yang menganggap bahwa Yesus adalah sosok yang dibuat.

Lindsay mengungkapkan, "Saya pikir dua ekstrem ini hampir sama-sama tidak masuk akal."

Editor : Yunanto Wiji Utomo


04.14 | 0 komentar | Read More

Mayat Berpakaian Security Mengambang di Sungai Ciliwung

Written By bopuluh on Sabtu, 12 Oktober 2013 | 04.14

JAKARTA, KOMPAS.com - Sesosok mayat ditemukan membusuk di aliran Sungai Ciliwung yang melewati wilayah Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (12/10/2013). Mayat tersebut ditemukan menggunakan pakaian securitydengan nama Agus S.

Kepala Polsek Metro Tebet Komisaris I Ketut Sudarma mengatakan, diduga mayat tersebut sudah berumur 3-4 hari yang lalu. Meski menggunakan seragam security, mayat ditemukan mengenakan bawahan celana pendek.

"Namun kita belum tahu security mana. Tindak lanjut nanti dalam penyelidikan," jelas Ketut di Mapolsek Metro Tebet, Sabtu (12/10/2013).

Karena masih dalam penyelidikan, Ketut belum dapat memastikan penyebab tewasnya mayat tersebut. Karena sudah membusuk, secara kasat mata tak terlihat tanda-tanda mencurigakan di tubuh mayat itu.

"Secara kasat mata belum bisa dipastikan karena baju dalam kondisi terkancing," ujarnya.

Saat ini, mayat tersebut sudah dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo untuk dilakukan visum. Polisi menghimbau, bagi warga masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarganya atau mengenali ciri-ciri di atas, dapat segera mendatangi Mapolsek Metro Tebet.

Editor : Tri Wahono


04.14 | 0 komentar | Read More

Ayah Bayi AA Belum Tahu Anaknya Meninggal


JAKARTA, KOMPAS.com - Suasana berduka masih menyelimuti rumah keluarga bayi AA di Jalan H Nasir, Rawa Domba, Duren Sawit, Jakarta Timur pasca-pemakaman bayi yang meninggal tak wajar itu, Sabtu (12/10/2013). Bayi AA dimakamkan di TPU Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur.

Ibu dan para kerabat bayi malang itu masih enggan memberikan keterangan perihal meninggalnya AA. "Maaf ya, kami tidak bisa memberikan keterangan apa-apa. Mama Ajeng (Ibu AA) juga masih capek, habis pemakaman anaknya," ujar Tri, adik dari ibu AA di rumah duka, Duren Sawit, Jakarta Timur, Sabtu.

Menurut keterangan dari tetangga korban, orangtua bayi AA dikenal jarang berinteraksi dengan warga sekitar. Ayah dari bayi AA, Asep yang bekerja sebagai sopir kargo jarang berada di rumah karena sering pergi ke luar kota. Sedangkan ibu dari AA keluar rumah hanya untuk pergi ke warung dan ke tempat ia bekerja sebagai kuli cuci. Bahkan sampai saat ini, kata tetangganya, Asep masih belum mengetahui bahwa anak bungsunya tersebut telah tiada karena sedang pergi ke Surabaya. Pihak keluarga hanya memberi tahu agar Asep segera pulang karena anaknya sedang sakit.

"Tadi saja ditelepon katanya masih sampai di Kebumen, belum tahu juga itu anaknya sudah meninggal, kalau tahu bisa gawat," ujar tetangga yang enggan disebutkan namanya.

Sampai saat ini, pihak kepolisian masih menunggu hasil visum yang masih diperiksa di RS Polri Kramat Jati untuk memastikan penyebab kematian bayi AA.

Polisi menyimpulkan, kematian bayi sembilan bulan itu sangat tidak wajar. Menurut dokter yang menangani AA ketika di rumah sakit, dokter menemukan adanya ketidakwajaran dalam kematian bayi ini karena mengalami luka di bagian anus dan kemaluannya.

Editor : Farid Assifa


04.14 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger